Penyakit Parkinson adalah
penyakit saraf yang memburuk secara bertahap dan memengaruhi bagian otak yang
berfungsi mengoordinasikan gerakan tubuh motorik.
Penyakit
Parkinson terkait dengan kerusakan atau kematian sel saraf di bagian otak yang
disebut susbstantia nigra. (Substantia nigra adalah bahasa Latin untuk
"substansi hitam", yang menunjukkan fakta bahwa bagian-bagian dari
substantia nigra tampak lebih gelap daripada daerah sekitarnya karena tingginya
tingkat neuromelanin).
Penyebab:
Penyebab
belum diketahui secara pasti, namun ada 2 alternatif teori:
Satu: kematian
sel saraf penghasil dopamin
Berkurangnya
produksi dopamin sehingga gerakan tubuh melambat menyebabkan sesorang menderita
penyakit Parkinson. Dopamin bertindak sebagai pembawa pesan antara dua area
otak, yaitu substantia nigra dan corpus striatum, untuk menghasilkan gerakan
yang halus dan terkendali.
Kurangnya
dopamin karena hilangnya sel-sel penghasil dopamin di bagian substantia nigra. Ketika
jumlah dopamin terlalu rendah, komunikasi antara substantia nigra dan corpus
striatum menjadi tidak efektif. Akibatnya, gerakan tubuh pun menjadi terganggu.
Dua: munculnya badan Lewy
Mutasi gen NCA (gen yang mengkode
protein penghasil alpha-synuclein): neuron dopaminergik menunjukkan kelainan
pada kompleks mitokondria 1, yang menyebabkan agregasi alpha-synuclein; hal ini
dapat mengakibatkan munculnya protein abnormal dan kematian neuron
gumpalan abnormal yang disebut badan
Lewy yang mengandung protein alpha-synuclein ditemukan di banyak sel otak
pengidap Penyakit Parkinson
Gejala:
Gejala
utama penyakit Parkinson termasuk (1) tremor, (2) kekakuan, (3) lamban dalam
melakukan gerakan (bradikinesia), dan (4) koordinasi tubuh yang terganggu.
Seseorang
yang mengidap Penyakit Parkinson memiliki gerakan berjalan yang khas, yaitu
dengan posisi membungkuk dan ayunan lengan yang berkurang atau tidak ada.
Pengidap mungkin menjadi sulit untuk mulai berjalan dan bergantian. Pengidap
juga dapat menjadi kaku pada pertengahan langkah dan jatuh ke depan saat
berjalan..
Gejala lain
termasuk gangguan pada postur, kelelahan, kelainan tidur, dan suasana hati yang
tertekan.
Menurut The Parkinson's Disease Foundation, gejala yang sering terjadi
terbagi menjadi 5 tahap, antara lain:
Stadium 1,
dengan gejala ringan dan tidak mengganggu kualitas hidup pengidap.
Stadium 2,
dengan gejala yang mulai memburuk. Ini ditandai dengan sulitnya melakukan
kegiatan sehari-hari dan membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikannya.
Stadium 3 yang
dianggap sebagai penyakit parkinson stadium menengah. pengidap mulai kehilangan
keseimbangan, lebih lambat bergerak, dan mudah sekali terjatuh. Selain itu,
pengidap semakin sulit dalam melakukan aktivitas ringan sehari-hari, misalnya
saat berpakaian, makan, dan menyikat gigi.
Stadium 4,
dengan gejala yang menjadi lebih berat. Pengidap membutuhkan bantuan ketika
berjalan dan melakukan kegiatan sehari-hari.
Stadium 5
adalah stadium paling lanjut dari penyakit parkinson. Pengidap tidak dapat
berjalan dan akan membutuhkan bantuan seumur hidupnya
Pengobatan:
Walau tidak dapat diobati, Penyakit
Parkinson dapat dicegah.
Berolahraga
dan rutin mengonsumsi makanan kaya antioksidan dipercaya dapat mengurangi
risiko sesorang terkena Penyakit Parkinson.
Meski sudah diketahui bahwa
kekurangan dopamin menyebabkan gejala motorik Ppenyakit parkinson, tapi tidak
jelas mengapa sel-sel otak yang menghasilkan dopamin memburuk. Studi genetik
dan patologis telah mengungkapkan bahwa berbagai proses seluler, peradangan,
dan stres yang disfungsional dapat berkontribusi terhadap kerusakan sel.
Selain itu, gumpalan abnormal yang
disebut badan Lewy yang mengandung protein alpha-synuclein ditemukan di banyak
sel otak pengidap Penyakit Parkinson. Fungsi rumpun ini dalam kaitannya dengan
penyakit parkinson tidak dapat dipahami. Secara umum, para ilmuwan menduga
bahwa kehilangan dopamin disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan
lingkungan.
Faktor risiko untuk penyakit parkinson meliputi:
Usia. Orang dewasa muda jarang
mengalami penyakit parkinson. Penyakit ini biasanya mulai menyerang usia paruh
baya hingga usia lanjut, dengan peningkatan risiko seiring bertambahnya usia.
Usia 60 tahun atau lebih akan lebih berisiko terserang penyakit ini.
Keturunan. Memiliki kerabat dekat
dengan penyakit parkinson akan meningkatkan risiko terjadinya penyakit ini.
Namun, risiko ini terbilang kecil, kecuali pengidap memiliki banyak kerabat
dalam keluarga dengan riwayat penyakit parkinson.
Jenis kelamin. Pria lebih sering
mengidap penyakit parkinson daripada wanita.
Paparan racun. Paparan herbisida dan
pestisida diduga meningkatkan risiko penyakit parkinson.

0 Komentar